Sabtu, 06 Oktober 2012

Asuhan Kebidanan Komunitas Tentang PROMOSI TABULIN, DONOR DARAH BERJALAN DAN AMBULANCE DESA, SUAMI SIAGA, BERPERAN AKTIF DALAM KEGIATAN SATGAS GSI


ASUHAN KEBIDANAN V
(KEBIDANAN KOMUNITAS)

PROMOSI TABULIN, DONOR DARAH BERJALAN DAN AMBULANCE DESA, SUAMI SIAGA, BERPERAN AKTIF DALAM KEGIATAN SATGAS GSI




Dosen Pengampu : Cahaya Kasih Lisda Girsang,S.Si.T

Di Susun Oleh :
1. Nolvian (10.007)
2. Sutini (10.008)
3. Siti Maula Nikmatul.M (10.009)
4. Siti Nursaidah (10.010)
5. Eka dewiyanti (09.007)
6. Dwi Retnoningsih (09.022)


AKADEMI KEBIDANAN SOKO TUNGGAL
SEMARANG
2012
TINJAUAN PUSTAKA


Promosi TABULIN, donor darah berjalan dan ambulance desa, suami SIAGA, berperan aktif dalam kegiatan SATGAS GSI

1.      PROMOSI TABULIN
Tabulin adalah tabungan social yang dilakukan oleh calon pengantin, ibu hamil dan ibu yang akan hamil maupun oleh masyarakat untuk biaya pemeriksaan kehamilan dan persalinan serta pemeliharaan kesehatan selama nofas. Penyetoran tabulin dilakukan sekali untuk satu masa kehamilan dan persalinan kedalam rekening tabulin

a.         Langkah-langkah perlu diperhatikan dalam pembiayaan kesehatan.
·           Pengalokasian / pemanfaatan pembiayaan kesehatan
·           Identifikasi sumber dana yang sudah ada dan yang akan dikembangkan
·           Cara pengelolaan dan pembelajaran perlu kejelasan dalam hal mekanisme pengumpulan dana, kesempatan pengelolaan dan sistem kontrak.
·           Kesiapan keluarga dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan yang telah dan akakn dikembangkan.

b.    Indikator keberhasilan pembiayaan kesehatan
·           Dana terhimpun, masyarakat yang berpartisipasi dalam pembiayaan kesehatan masyarakat
·           Pengalokasian tepat sasaran sesuai berbagai kebutuhan kesehatan (promotif, preventif, koratif, rehabilitatif)
·           Pengelolaan dan pemanfaatan tertib, mudah, lancar
·           Berkesinambungan kegiatan
            Tabulin atau tabungan ibu bersalin merupakan bagian dari program yang ada, dimana Ikatan Bidan Indonesia (IBI) selaku mitra Depkes dan BKKBN turut membina masyarakat untuk sosialisasi program ini. Selain ituutk biaya melahirkan, Tabulin juga bisa dipakai sebagai penunjang biaya pasca persalinan.
           Sebelum ada desa siaga sudah dimulai dengan tabungan Ibu bersalin (Tabulin). Jadi kita menerangkan ke Ibu hamil dan keluarganya, meskipun kaya. Justru orang kaya tersebut memberikan contoh kepada orang-orang yang tidak mampu untuk menabung. Dan Ibu hamil di berikan buku yang dibawa setiap pemeriksaan.

c.    Mekanisme Tabulin
Tabungan itu terbentuk berdasarkan Rw. atau Posyandu. Bila posyandunya empat, maka tabungannya ada empat didesa itu. Sedankan Dasolin (Dana Sosial / Bersalin) mekanismenya yaitu, masyarakat yang pasang usia subur juga Ibu yang mempunyai balita dianjurkan menabung, yang kegunaannya untuk membantu ibu saat hamil lagi.
รจ Adapun manfaat dari tabulin antara lain :
• Sebagai tabungan / simpanan itu yang digunakan untuk biaya persalinan atau sesudah persalinan
•   Ibu dan keluarga tidak merasa terbebani terhadap biaya persalinan.

2.    DONOR DARAH BERJALAN
    Donor darah berjalan adalah donor yang dilakukan tiap hari. Donor darah berjalan ini adalah program PMI untuk memenuhi pasokan darah d PMI karena PMI sering mengalami kekurangan pasokan darah sedangkan yang membutuhkan donor darah sangat banyak.

a.       Manfaat Donor Darah
Selain segi sosial dan derma yang dapat dijadikan dorongan mengapa kita perlu mendonorkan darah secara rutin, terdapat beberapa manfaat medis dari donor darah secara teratur. Donor darah terutama baik bagi mereka yang memiliki kandungan besi dalam darah berlebihan karena besi yang berlebih cenderung akan menumpuk pada berbagai organ vital seperti jantung, liver, ginjal dan mengganggu fungsinya (hemokromatosis). Selain itu, beberapa penelitian medis, walaupun belum sempurna dijelaskan secara medis, mengemukakan bahwa donor darah rutin akan membantu kelancaran aliran darah (sistem kardiovaskular).

b.      Syarat Donor Darah (yang tertera di vitamin penambah darah) :
1)        Berbadan sehat
2)        Berusia 17-65 tahun
3)        Berat badan > 45 kg
4)        Tidak sedang menderita penyakit
5)        Wanita : tidak edang hamil dan menyusui
6)        Jarak waktu donor darah min 3 bulan
Syarat tambahan yang tidak tertulis dan kita harus tahu
1)      Kandungan hemoglobin dalam darah > 12,5 (CMIIW)
2)      Spesial buat wanita, tidak sedang haid dan jarak setelah haid dengan waktu donor darah sebaiknya 1 minggu.

c.       Yang boleh mendonorkan darah         
  Prinsipnya semua manusia sehat (terutama dewasa) boleh untuk mendonorkan darahnya.
            Orang yang sudah lanjut usia boleh mendonorkan darah, dengan catatan mereka tidak memiliki penyakit serius (penyakit jantung, ginjal, dehidrasi-anemia). Pendonor lansia pasca donor sebaiknya berbaring sekurang-kurangnya 15 menit terlebih dahulu jangan langsung berdiri dan berjalan. Hal ini dikarenakan respon sistem otonom dalam kontrol tekanan darah seringkali terganggu pada usia lanjut sehingga mudah terjadi hipotensi orthostatic (tekanan darah anjlok tiba-tiba karena perubahan postur tubuh dari berbaring ke tegak/semi tegak).
 Ibu hamil masih boleh mendonorkan darahnya dengan beberapa perhatian misalnya :
·       relatif lebih aman jika sedang hamil di tengah-tengah bulan (bukan    hamil muda maupun tua)
·       kondisi fisik ibu maupun si janin harus fit; tidak ada permasalahan dengan kehamilannya
·       mengingat anemia umum sering dijumpai pada ibu hamil, maka pemeriksaan kadar Hb dan Hematokrit perlu dilakukan sebelumnya.
   Pada ibu yang hamil tua, posisi selama berbaring mendonorkan darahnya sebaiknya diatur sedemikian rupa yaitu dalam posisi setengah duduk atau berbaring miring kiri. Posisi terlentang dapat mengurangi aliran darah ke janin karena pembuluh darah dalam perut tertekan oleh rahim yang besar dan jatuh ke belakang.

d.   Tips dan Trik buat yang mau donor darah
·      Pastikan perut terisi sebelum donor (sarapan dulu)
·      Malam hari sebelum donor, tidur cukup
·      Buat yang tekanan darah agak rendah,olahraga ringan sebelum donor.
·      Tekanan darah normal 120/80. Tekanan darah 100-110 / 70-80 biasanya masi diperbolehkan donor.
·      Rileks waktu jarum suntik akan disuntikkan

e.    Tips untuk pendonor darah pertama
Jika belum pernah donor, biasanya setelah donor agak pusing. Bahkan bisa jadi pingsan. Kalo terasa pusing pada waktu donor (darah masih mengalir), segera bilang ke petugas. Setelah donor dipaksakan istirahat sebentar di tempat donor.
Jangan berjalan dulu. Duduk secara perlahan. Pada wanita, sebaiknya dicari saat donor darah yang tidak bersamaan dengan saat menstruasi. Hal ini untuk mengurangi lebih banyak lagi kehilangan darah dan anemia.
3. AMBULANCE DESA
a. Pengertian
·      Ambulan desa adalah salah satu bentuk semangat gotong royong dan saling peduli sesama warga desa dalam sistem rujukan dari desa ke unit rujukan kesehatan yang berbentuk alat transportasi.
·      Ambulan desa adalah suatu alat transportasi yang dapat digunakan untuk mengantarkan warga yang membutuhkan pertolongan dan perawatan di tempat pelayanan kesehatan.

d.      Tujuan
·      Tujuan umum.
Mempercepat penurunan AKI karena hamil, nifas dan melahirkan.
·      Tujuan khusus.
Mempercepat pelayanan kegawat daruratan masa1ah kesehatan, bencana serta kesiapsiagaan mengatasi masalah kesehatan yang terjadi atau mungkin terjadi.

e.       Sasaran
Pihak-pihak yang berpengaruh terhadap perubahan prilaku individu dan keluarga yang dapat menciptakan iklim yang kondusif terhadap perubahan prilaku tersebut. Semua individu dan keluarga yang tanggap dan peduli terhadap permasalahan kesehatan dalam hal ini kesiapsiagaan memenuhi sarana transportasi sebagai ambulan desa.

f.       Kriteria
1)      Kendaraan yang bermesin yang sesuai standart (mobil sehat)
2)      Mobil pribadi, perusahaan, pemerintah pengusaha .
3)      ONLINE (siap pakai)



g.      Indikator Proses Pembentukan Ambulan Desa
1)      Ada forum kesehatan desa yang aktif
2)      Gerakan bersama atau gotong royong oleh masyarakat dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah kesehatan. bencana serta kegawat daruratan kesehatan dengan pengendalian faktor resikonya.
3)      UKBM berkualitas
4)      Pengamatan dan pemantauan masalah kesehatan.
5)      Penurunan kasus masalah kesehatan, bencana atau kegawat daruratan kesehatan.

4. SUAMI SIAGA
a. Definisi
·         Siap, suami hendaknya waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika melihat tanda bahaya kehamilan.
·         Antar, suami hendaknya merencanakan angkutan dan menyediakan donor darah jika diperlukan.
·         Jaga, suami hendaknya mendampingi istri selama proses dan selesai persalinan.
Suami Siaga:
         Dalam konsep suami siaga, seorang suami dengan istri yang sedang hamil diharapkan siap mewaspadai setiap risiko kehamilan yang muncul, menjaga agar istri tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kesehatan dan kehamilannya, serta segera mengantar ke rujukan terdekat bila ada tanda-tanda komplikasi kehamilan.

5. BERPERAN AKTIF DALAM SATGAS GSI
a. Pengertian
    Gerakan sayang Ibu (GSI) adalah gerakan yang mengembangkan kualitas perempuan utamanya melalui percepatan penurunan angka kematian ibu yang dilaksanakan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia dengan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian dalam upaya integrative dan sinergis.
   GSI didukung pula oleh Aliansi Pita Putih (White Ribbon Alliance) yaitu suatu aliansi yang ditujukan untuk mengenang semua wanita yang meninggal karena kehamilan dan melahirkan. Pita putih merupakan symbol kepedulian terhadap keselamatan ibu yang menyatukan individu, organisasi dan masyarakat yang bekerjasama untuk mengupayakan kehamilan dan persalinan yang aman bagi setiap wanita.
GSI diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk aktif terlibat dalam kegiatan seperti membuat tabulin, pemetaan bumil dn donor darah serta ambulan desa. Untuk mendukung GSI, dikembangkan juga program suami SIAGA dimana suami sudah menyiapkan biaya pemeriksaan dan persalinan, siap mengantar istri ke tempat pemeriksaan dan tempt persalinan serta siap menjaga dan menunggui saat istri melahirkan.

3 (tiga) unsur pokok :
Pertama           : Gerakan Sayang Ibu merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama dengan pemerintah.
Kedua  : Gerakan Sayang Ibu mempunyai tujuan untuk peningkatan dan perbaikan kualitas hidup perempuan sebagai sumber daya manusia.
Ketiga  : Gerakan Sayang Ibu bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas.

b. Tujuan gerakan sayang ibu
·      Menurunkan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta menurunkan angka kematian bayi.
·      Meningkatkan pengetahuan ibu atau kaum perempuan mengenai Penyakit menular Seksual (PMS).
·      Meningkatkan pengetahuan ibu atau kaum perempuan mengenai perawatan kehamilan, proses melahirkan yang sehat, pemberian ASI Ekslusif dan perawatan bayi.
·      Memantapkan komitmen dan dukungn terhadap Gerakan Sayang Ibu.
·      Meningkatkan kepedulian dan dukungan sector terkait terhadap upaya-upaya penanggulangan penyebab kematian ibu dan bayi secara terpadu.
·      Memantapkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam mengembangkan dan membangun mekanisme rujukan sesuai dengan kondisi daerah.
·      Meningkatkan kepedulian dan peran serta institusi masyarakat dan swasta (LSM, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi) dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dalam pengumpulan data ibu hamil, bersalin dan nifas di tingkat kelurahan dan kecamatan.
·      Meningkatkan fungsi dan peran institusi kesehatan baik pemerintah maupun swasta dalam pelayanan kesehatan yang aman, ramah dan nyaman bagi ibui dan bayi.
·      Meningkatkan upaya masyarakat dalam mengubah budaya masyarakat yang merugikan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas serta bayi yang dilahirkan.
·      Meningkatkan upaya pengembangan dana perawatan ibu hamil, bersalin, nifas serta perawatan bayi di setiap wilayah kelurahan dibawah koordinasi camat.

c.   Sasaran gerakan sayang ibu
1)      Langsung : Caten (Calon Penganten)
·         Pasangan Usia Subur (PUS)
·         Ibu hamil, bersalin dan nifas
·         Ibu meneteki masa perawatan bayi
·         Pria/Suami dan seluruh anggota keluarga
2)      Tidak langsung : Sektor terkait
·      Institusi kesehatan
·      Institusi Masyarakat
·      Tokoh masyarakat dan agama
·      Kaum bapak/pria
·      Media massa

d.   Ruang lingkup gerakan sayang ibu
1)        Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak melalui upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi.
2)        Meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku suami istri dan masyarakat mengenai hak-hak Reproduksi dan Kesehatan Reproduksi.
3)        Menghilagkan hambatan-hambatan yang mempengaruhi upaya peningkatan kualitas hidup perempuan.

e.   Strategi gerakan sayang ibu
Melalui pendekatan kemasyarakatan, dikembangkan dalam bentuk :
1)      Desentralisasi
2)      Kemandirian
3)      Keluarga
4)      Kemitraan

f.    Perencanaan dan pelaksanaan gerakan sayang ibu
Melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Identifikasi masalah
2)      Penentuan masalah
3)      Penentuan tujuan
4)      Pengembangan alternatif pemecahan masalah
5)      Penentuan rencana operasional
Terdiri dari : Langkah kegiatan ( jadwal kegiatan)
·         Tenaga pelaksana
·         Dukungan dana dan saran
·         Monitoring dan Pelaporan
·         Evaluasi kegiatan

g.  Pelaksanaan kegiatan gerakan sayang ibu
1)      Unsur Opersional
·      Kegiatan advokasi dan KIE
·      Pengembangan pesan advokasi dan KIE GSI
·      Pemberdayaan dalm keluarga, masyarakat dan tempat pelayanan kesehatan
·      Memadukan kegiatan GSI, pondok bersalin dan posyandu
2)      Unsur Pendukung
·      Orientasi dan penelitian
·      Pendataan, pemantauan, pemetaan bumil, bulin, bufas dan bayi
·      Pengembangan tata cara rujukan
·      Mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
·      Peningkatan peran bidan

h. Tugas Pokok Satgas Gerakan Sayang Ibu meliputi :
1)      Menyusun rencana kerja dalam rangka menurunkan AKI dan AKB serta mengumpulkan dana untuk ambulance kecamatan dan tabulin.
2)      Advokasi kepada TOMA, TOGA dan TOPOL dapat mendukung GSI wilayah tersebut.
3)      Penyuluhan kepada keluarga serta bumil, bulin, bufas dan ibu yang mempunyai bayi di masyarakat.
4)      Mengumpulkan data informasi bumil, bulin, bufas dan bayi yang dilakukan.
5)      Memberikan tanda pada bumil beresiko tinggi untuk kemudian dipantau dan di informasikan ke bidan puskesmas.
6)      Membantu merujuk.



i.                    Memantau Keberhasilan Gerakan sayang Ibu (GSI)
Beberapa hal yang perlu dipantau untuk melihat keberhasilan pelaksanaan GSI antara lain :
1)   Sektoral terkait berperan aktif dalam kegiatan operasional
2)   Setiap persalinan ditolong oleh tenakes
3)   Kecamatan dan kelurahan dapat melaksanakan kegiatan KIE dengan baik

4)      Kecamatan dan kelurahan dapat melakukan rujukan dengan baik artinya:
·      Tersedianya kendaraan untuk membantu bumil melahirkan dan nifas yang membutuhkan
·      Tersedianya biaya untuk rujukan
·      Sarana pelayanan kedaruratan medik untuk setiap kasus emergensi kehamilan, persalinan dan nifas

j. Indikator keberhasilan sebelum dan sesudah GSI
Semakin dan mantapnya peranan organisasi masyarakat dalam GSI, seperti :
1)       Meningkatkan dan mantapnya masyarakat menjadi kader KIE GSI
2)       Mendata ibu hamil dalam lingkungannya termasuk data mengenai :
·           Jumlah ibu hamil
·           Umur kehamilan, riwayat kehamilan, persalinan dan rencana persalinan
·           Mengenai kehamilan yang beresiko dan rencana tindak lanjutnya
3) Menyampaikan data-data tersebut kepada Satgas GSI setempat
4) Semakin tumbuhnya ide-ide baru dari masyarakat

Semakin meningkat dan mantapnya pengetahuan dan pemahaman mengenai GSI, seperti :
·         Mengenai kelainan kehamilan sedini mungkin dan segera membawanya ke fasilitas kesehatan.
·         Mempersiapkan biaya persalinan dan perlengkapan bayi
·         Memeriksakan ibu hamil di sarana kesehatan atau bidan terdekat minimal 4 kali
·         Mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat timbul selama kehamilan dan persalinan (mempersiapkan donor darah, kendaraan, dsb)
·         Melaksanakan keadilan dan kesetaraan gender dalam rumah tangga
·         Memberi keluarga untuk mendapatkan pendidikan

Setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga :
·         Menghindarkan perkawinan remaja putri sebelum usia 20 tahun
·         Suami-istri merencanakan jumlah anak, waktu mengandung dengan mempertimbangkan kesehatan istri serta memberi peluang istri untuk meningkatkan potensinya dalam berbagai bidang kehidupan
·         Semua kehamilan merupakan kehamilan yang diinginkan
·         Memperhatikan makanan ibu hamil dan menghindarkan ibu hamil bekerja keras

          Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah baik dengan GSI ataupun Safe Motherhood telah memungkinkan ditambahnya sarana dan prasarana untuk mengajak ibu hamil dan melahirkan makin dekat pada pelayanan medis yang bermutu.
Akan tetapi GSI juga menemui hambatan dalam pelaksanaannya, antara lain :
1.      Secara Struktural
Berbagai program tersebut masih sangat birokratis sehingga orientasi yang terbentuk semata-mata dilaksanakan karena ia adalah program wajib yang harus dilaksanakan berdasarkan SK (Surat Keputusan).
2.      Secara Kultural
Masih kuatnya anggapan/pandangan masyarakat bahwa kehamilan dan persalinan hanyalah persoalan wanita.

Asuhan Kebidanan Komunitas Tentang KB - KIA


MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN V
(KEBIDANAN KOMUNITAS)



KB – KIA
(KELUARGA BERENCANA – KESEHATAN IBU DAN ANAK)




Dosen Pengampu :Lohita Indu Anggayasti, S. Si. T


Di Susun Oleh :
Nolvian (10.007)
Dwi Retnonigsih (09.022)


AKADEMI KEBIDANAN SOKO TUNGGAL
SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas kehendak-Nya makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah yaitu Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas)
Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan akan kurangnya pengetahuan. Namun, berkat bimbingan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat terselesaikan walaupun masih terdapat kekurangan didalamnya. Karena itu, sepantasnya jika penulis mengucapkan terima kasih kepada:
·         Tuhan Yang Maha Esa
·         Ibu Lohita Indu Anggayasti, S.Si.T dosen pembimbing yang telah banyak memberi bimbingan dan masukan-masukan
·         Kedua Orang tua yang telah banyak memberi dukungan baik secara materi ataupun moral
·         Teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu-satu, terima kasih atas dukungan dan doanya
Penulis menyadari karya mahasiswa ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar karya mahasiswa ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.
Semoga segala kebaikan dan pertolongan semuanya mendapatkan berkah dari Allah SWT. Akhir kata penulis mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan. AMIN.
                                                                                                                                Semarang, 14 Juli 2012
                                                                                               

Penulis
DAFTAR ISI






























BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Keluarga berencana (KB) adalah program nasional yang bertujuan meningkatkanderajat kesehatan, kesejahteraan ibu, anak dan keluarga khususnya, serta bangsa pada umumnya. Salah satunya dengan cara membatasi dan menjarangkan kehamilan.
Masalah yang akan dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak dalam jumlah banyak terutama disertai tidak diaturnya jarak kelahiran adalah peningkatan risiko terjadinyapendarahan ibu hamil pada trimester ketiga, angka kematian bayi meningkat, ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk merawat diri dan anaknya, serta terganggunya proses perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan kurang gizi, berat badan lahir rendah(BBLR) dan lahir prematur.
Proyeksi penduduk telah dirumuskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) denganperkiraan penduduk Indonesia sekitar 273,65 juta jiwa pada tahun 2025. Laju pertumbuhanpenduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah 2,30%, tahun 1980-1990 adalah 1,97%, tahun1990-2000 sebanyak 1,49% dan tahun 2000-2005 adalah 1,3%. Hal ini menujukkan adanya penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia.
Hingga saat ini sudah banyak program-program pembangunan kesehatan di Indonesia yang ditujukan pada penanggulangan masalah-masalah kesehatan ibu dan anak. Pada dasarnya program-program tersebut lebih menitik beratkan pada upayaupaya penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar dan angka  kematian ibu.
Hal ini terbukti dari hasil-hasil survei yang menunjukkan penurunan angka kematian bayi dan anak, angka kelahiran kasar. Namun tidak demikian halnya dengan angka kematian ibu (MMR) yang selama dua dekade ini tidak menunjukkan  penurunan yang berarti. SKRT 1994 menunjukkan hahwa MMR sebesar 400 – 450 per 100.000 persalinan. 
Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas. Penyakit-penyakit tertentu seperti ISP A, diare dan tetanus yang sering diderita oleh bayi dan anak acap kali berakhir dengan kematian.
Demikian pula dengan peryakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil seperti anemia, hipertensi, hepatitis  dan lain-lain dapat membawa resiko kematian ketika akan, sedang atau setelah persalinan.  Baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu dan anak sesungguhnya, tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat  dimana mereka berada.
Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan  pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan  dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan  ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif  terhadap  kesehatan ibu dan anak.
Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal  ini terlihat  bahwa setiap daerah mempunyai pola  makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan  kepercayaan akan pantangan, tabu, dan  anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KB-KIA di wilayah kerja puskesmas, melalui  pemantauan cakupan pelayanan KIA di tiap desa secara terus menerus.
2. Tujuan Khusus
a)      Memantau cakupan pelayanan KB-KIA yang dipilih sebagai indikator secara teratur (bulanan) dan terus menerus.
b)      Menilai kesenjangan antara target dengan pencapaian.
c)      Menentukan urutan daerah prioritas yang akan ditangani secara intensif.
d)     Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
e)      Membangkitkan peran pamong dalam menggerakkan sasaran dan mobilisasi sumber daya.

























BAB II
PEMBAHASAN


A. KIA (KESEHATAN IBU DAN ANAK)

1. DEFINISI
KIA adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak yang anggotanya meliputi ibu hamil dan menyusui.

2. TUJUAN
a)      Tujuan Umum
Agar ibu hamil dan menyusui tahu cara yang baik untuk menjaga kesehatan sendiri dan anaknya, tahu pentingnya pemeriksaan ke puskesmas dan posyandu atau tenaga kesehatan lain pada masa hamil dan menyusui serta adanya keinginan untuk ikut menggunakan kontrasepsi yang efektif dan tepat.
b)      Tujuan Khusus
Memberi pengetahuan kepada ibu tentang hygiene perorangan pentingnya menjaga kesehatan, kesehatan ibu untuk kepentingan janin, jalannya proses persalinan, persiapan menyusui dan KB.

3. KEBIJAKAN
a)      Kegiatan harus disesuaikan dengan kesehatan ibu dan masalah yang ada.
b)      Pelaksanaannya dilakukan setiap minggu dengan materi dasar yang harus di review terus.
c)      Metode yang digunakan adalah demonstrasi dengan materi dan pembicara berganti – ganti.
d)     Tenaga pelatih atau pengajar adalah orang yang ahli di bidangnya.
e)      Tempat pertemuan adalah di ruang tunggu puskesmas, kelurahan atau tempat lain yang dikenal masyarakat.
f)       Lamanya pelatihan tiap hari tidak lebih dari 1 jam.
g)      Beri teori 20 menit, selebihnya adalah demontrasi

4. MATERI KEGIATAN
a)      Pemeliharaan diri waktu hamil
b)      Makanan ibu dan bayi
c)      Pencegahan infeksi dengan imunisasi
d)     Keluarga Berencana
e)      Perawatan payudara dan hygiene perorangan
f)       Rencana persalinan

5. KEGIATAN YANG DILAKUKAN
a)         Pakaian dan perawatan bayi
b)         Contoh makanan sehat untuk ibu hamil dan menyusui
c)         Makanan bayi
d)        Perawatan payudara sebelum dan setelah persalinan
e)         Peralatan yang diperlukan ibu hamil dan menyusui
f)          Cara memandikan bayi
g)         Demontrasi tentang alat kontrasepsi dan cara penggunaanya

6. PELAKSANA
a)         Pelaksana utama meliputi dokter puskesmas, pengelola KIA, Kader, Bidan.
b)         Pelaksana pendukung meliputi camat, kades, pengurus LKMD, tokoh masyarakat.
c)         Pelaksana pembina meliputi sub din KIA Propinsi, tim pengelola KIA kabupaten.

7. FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN
a)         Faktor manusia
b)         Faktor sarana (tempat)
c)         Faktor prasarana (fasilitas).
8. TUGAS BIDAN SEBAGAI PENGELOLA PELAYANAN KIA/KB
a)         Mengembangkan pelayanan kesehatan masyarakat terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat diwilayah kerjanya dengan melibatkan keluarga dan masyarakat.
b)         Berpartisipasi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan program sektor lain diwilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan lain yang berada diwilayah kerjanya.

9. TUGAS KADER DALAM KB – KIA
Tugas kegiatan kader akan ditentukan, mengingat bahwa pada umumnya kader bukanlah tenaga profesional melainkan hanya membantu dalam pelayanan kesehatan. Dalam hal ini perlu adanya pembatasan tugas yang diemban, baik menyangkut jumlah maupun jenis pelayanan.

10. PROGRAM POKOK KIA DAN KB
Pembinaan Kesehatan Ibu
a)      Pelayanan ibu resti berupa cakupan pelayanan (konseling, penanganan dan rujukan)
b)      Persalinan oleh nakes
c)      Cakupan peserta KB aktif (CPR)
d)     Perawatan ibu nifas
e)      Pelayanan neonatus, bayi dan anak balita
f)        DDTK

11. PELAYANAN POLI KIA & KB
a)  Poli Kesehatan Ibu Anak – Antenatal Neonatus Care (ANC)
1)      ANC pada ibu hamil normal dan ibu hamil resiko tinggi
2)      Penatalaksanaan ibu hamil resiko tinggi
3)      ANC pada ibu hamil normal dan ibu hamil resiko tinggi
4)      Penatalaksanaan ibu hamil resiko tinggi
5)      Nifas
6)      Melaksanakan perawatan nifas normal
7)      Penanganan perdarahan post partum
8)      Penanganan infeksi nifas
9)      Pre-eklamsi / eklamsi nifas
10)  Melakukan rujukan kasus resiko tinggi ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi secara tepat, cepat, benar.

b)  Poli Kesehatan Ibu Anak – Keluarga Berencana (KB)
1)      Konseling pranikah
2)      Konseling metode KB
3)      Pelayanan KB kondom, pil injeksi, implant, IUD
4)      Penatalaksanaan efek samping KB baik hormonal maupun non hormonal
5)      Melakukan rujukan kasus KB ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi secara tepat, cepat dan benar.

B. KB (KELUARGA BERENCANA)

1. DEFINISI
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda kehamilan.
Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan perencanaan keluarga. Berdasarkan penelitian, terdapat 3.6 juta kehamilan tidak direncanakan setiap tahunnya di Amerika Serikat, separuh dari kehamilan yang tidak direncanakan ini terjadi karena pasangan tersebut tidak menggunakan alat pencegah kehamilan, dan setengahnya lagi menggunakan alat kontrasepsi tetapi tidak benar cara penggunaannya.
Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan berkembang di dalam rahim. Kontrasepsi dapat reversible (kembali) atau permanen (tetap).
Kontrasepsi yang reversible adalah metode kontrasepsi yang dapat dihentikan setiap saat tanpa efek lama di dalam mengembalikan kesuburan atau kemampuan untuk punya anak lagi. Metode kontrasepsi permanen atau yang kita sebut sterilisasi adalah metode kontrasepsi yang tidak dapat mengembalikan kesuburan dikarenakan melibatkan tindakan operasi.
Metode kontrasepsi juga dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya yaitu metode barrier (penghalang), sebagai contoh, kondom yang menghalangi sperma; metode mekanik seperti IUD; atau metode hormonal seperti pil. Metode kontrasepsi alami tidak memakai alat-alat bantu maupun hormonal namun berdasarkan fisiologis seorang wanita dengan tujuan untuk mencegah fertilisasi (pembuahan).
Faktor yang mempengaruhi pemilihan kontrasepsi adalah efektivitas, keamanan, frekuensi pemakaian dan efek samping, serta kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontrasepsi secara teratur dan benar. Selain hal tersebut, pertimbangan kontrasepsi juga didasarkan atas biaya serta peran dari agama dan kultur budaya mengenai kontrasepsi tersebut. Faktor lainnya adalah frekuensi bersenggama, kemudahan untuk kembali hamil lagi, efek samping ke laktasi, dan efek dari kontrasepsi tersebut di masa depan. Sayangnya, tidak ada metode kontrasepsi, kecuali abstinensia (tidak berhubungan seksual), yang efektif mencegah kehamilan 100%.

2. TUJUAN
Tujuan Program Keluarga Berencana secara makro untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kelahiran, secara mikro mewujudkan ketahanan keluarga dan kesejahteraan masyarakat, yang diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut :
a)      Upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan
b)      Pengaturan kelahiran
c)      Pembinaan ketahanan keluarga
d)     Peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera
e)      Meningkatkan koordinasi dan peran serta aparatur serta masyarakat sehingga mampu mewujudkan koordinasi dalam membangun Keluarga Berencana
f)       Meningkatkan peran penyuluh dalam peningkatan capaian program

3. SASARAN
a)      Mengendalikan tingkat kelahiran penduduk
b)      Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi
c)      Meningkatkan ketahanan dan pemberdayaan keluarga
d)     Memperkuat kelembagaan dan jejaring pelayanan KB

4. MACAM-MACAM METODE KONTRASEPSI

a) Kontrasepsi untuk wanita usia lanjut
Semakin bertambah usia maka terdapat perubahan dari periode menstruasi. Ketika darah haid akhirnya berhenti, maka seorang wanita memasuki masa menopause. Bagaimanapun juga, kontrasepsi sebaiknya digunakan sampai wanita tidak mendapatkan menstruasi atau darah haid selama 2 tahun jika usia kurang dari 50 tahun atau 1 tahun jika usia lebih dari 50 tahun.
b) Metode kontrasepsi terdiri dari :
1)      Metode Alami
o   Coitus Interruptus (Sanggama Terputus) Aksi ini dapat mencegah terjadinya pembuahan yang berujung pada kehamilan. Coitus Interruptus dapat diartikan sebagai senggama terputus atau dalam artian penis dikeluarkan dari vagina sesaat seblum ejakulasi terjadi. Dengan cara ini diharapkan cairan sperma tidak akan masuk kedalam rahim serta mengecilkan kemungkinan bertemunya sperma dengan sel telur yang dapat mengakibatkan terjadinya pembuahan. Teknik ini membutuhkan pastisipasi yang besar dari pasangan Anda . Selain itu juga menuntut jiwa yang besar dari Anda dan pasangan alias siap mental jika ternyata metode tersebut gagal. Faktor kegagalan dari metode ini memang cukup tinggi karena bisa saja sperma telah keluar sebelum orgasme. Dengan kata lain sperma sudah terlepas dan berenang cepat menuju sel telur sesaat sebelum penis ditarik keluar.
  • EFEKTIF : Bagi wanita yang suami atau pasangannya mampu mengontrol waktu ejakulasi.

o   Sistem Kelender (Pantang Berkala) Metode ini disebut juga dengan The Rhythm Method
      Jika cara ini jadi pilihan maka pengetahuan Anda tentang masa subur atau fertility awareness harus tinggi. Anda harus mengetahui dengan tepat masa subur atau saat yang paling memungkinkan Anda mengalami kehamilan. Bila Anda memang ingin menunda kehamilan, maka pada saat tubuh memasuki masa subur tundalah keinginan berhubungan intim dengan pasangan. Atau Anda dan pasangan tetap melakukan hubungan seksual tapi menggunakan kondom. "Perhatikan terlebih dahulu siklus mentruasi Anda selama 3 bulan kalau perlu 6 bulan guna mendapatkan perhitungan waktu siklus mentruasi yang tepat, menurut Dr. Prima masa "aman" seorang wanita adalah 2 hari setelah mentruasi hingga 14 hari menjelang mentruasi berikutnya buat yang memiliki siklus haid pendek. Jika siklus menstruasi Anda panjang, maka masa "aman" 2 hari setelah haid hingga 16 hari menjelang menstruasi yang akan datang. Namun perlu di ingat sebenarnya masa subur sangat sulit ditebak dengan pasti jadi masih ada kemungkinan Anda mengalami "kebobolan"
  • EFEKTIF: Bagi wanita dengan siklus mentruasi teratur. Buat mereka yang siklus haidnya tidak teratur akan sulit untuk menggunakan metode ini, karena kesulitan menentukan masa subur.
2) Metode Perlindungan (Barrier)
o   Kondom Penggunaan kondom cukup efektif selama digunakan secara tepat dan benar. Kegagalan kondom dapat diperkecil dengan menggunakan kondom secara tepat, yaitu gunakan pada saat penis sedang ereksi dan dilepaskan sesudah ejakulasi. Alat kontrasepsi ini paling mudah didapat serta tidak merepotkan. Kegagalan biasanya terjadi bila kondom robek karena kurang hati-hati atau karena tekanan pada saat ejakulasi sehingga terjadi perembesan.
o   EFEKTIF: Bagi siapa saja. Alergi terhadap karet kondom adalah hal yang sangat jarang terjadi. Sebaiknya jika ada keluhan iritasi dan rasa tidak nyaman usai berhubungan, Anda wajib konsultasi dengan dokter dan mencari alternatif kontrasepsi lainnya.

o   Spermatisida Ini bahan sejenis bahan kimia aktif yang berfungsi "membunuh" sperma. Dapat berwujud cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke dalam vagina 5 menit sebelum senggama. Ketika memasukkan spermatisida kedalam vagina harus menggunakan alat yang telah disediakan dalam kemasan. sangat tidak diperbolehkan menggunakan tangan!. Kegagalan sering terjadi karena waktu larut belum yang cukup, jumlah spermatisida yang digunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu kurang dari 6 jam usai senggama.
o   EFEKTIF: Dapat digunakan siapa saja dan untuk meningkatkan efektifitasnya, gunakan bersamaan dengan kondom serta vaginal diafragma.

o   Vagina Diafragma Lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim bila dipasang dalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektifitasnya alat kontrasepsi ini bisa menurun bila terlalu cepat dilepas kurang dari 8 jam setelah senggama. "Permasalahanya, banyak wanita harus belajar dulu cara memasukkan kedalam vagina. Dan kebanyakan wanita Indonesia tidak terbiasa atau sungkan memasukkan jari ke dalam lubang vagina" jelas Dr. Prima
o   EFEKTIF: Dapat digunakan siapa saja dan untuk meningkatkan efektifitasnya, gunakan bersamaan dengan kondom serta spermatisida.

3) Metode Perlindungan (Barrier)
o  Pil KB Keuntungan pil ini adalah tetap membuat menstruasi teratur, mengurangi kram atau sakit saat menstruasi. Kesuburan Anda juga dapat kembali pulih dengan cara cukuo menghentikan pemakaian pil ini. Pil KB termasuk metode yang efektif saat ini. Cara kerja pil KB adalah dengan mencegah pelepasan sel telut. Pil ini mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi (99%) bila digunakan dengan tepat dan secara teratur. Ada dua jenis pil KB yang sekarang beredar di pasaran, yaitu kombinasi antara estrogen dan progesteron atau hanya mengandung progestoren saja. "Pil KB generasi kedua tidak mempunyai efek seperti pil generasi pertama atau kita kenal dengan lingkaran biru. Pil KB saat ini tidak membuat tubuh gemuk, jerawatan serta pusing.
o   EFEKTIF: Bagi wanita yang memang memiliki tingkat disiplin tinggi. Tidak dianjurkan bagi yang sering lupa karena 2 kali alpa meminum pil KB justru dapat membuat subur para wanita.

o  Suntik KB Jenis kontrasepsi ini pada dasarnya mempunyai cara kerja seperti pil. Untuk suntikan yang diberikan 3 bulan sekali, memiliki keuntungan mengurangi resiko lupa minum pil dan dapat bekerja efektif selama 3 bulan. Efek samping biasanya terjadi pada wanita yang menderita diabetes atau hipertensi.
o   EFEKTIF: Bagi wanita yang tidak mempunyai masalah penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, trombosis atau gangguan pembekuan darah serta riwayat stroke. Tidak cocok buat wanita perokok. Karena rokok dapat menyebabkan peyumbatan pembuluh darah.
o  Susuk KB Implant/susuk KB adalah kontrasepsi dengan cara memasukkan tabung kecil di bawah kulit pada bagian tangan yang dilakukan olej dokter Anda. Tabung kecil berisi hormon tersebut akan terlepas sedikit-sedikit, sehingga mencegah kehamilan. Keuntungan memakai kontrasepsi ini, Anda tidak harus minum pil atau suntik KB berkala. Proses pemasangan susuk KB ini cukup 1 kali untuk masa pakai 2-5 tahun. Dan bilamana Anda berenca hamil, cukup melepas implant ini kembali, efek samping yang ditimbulkan, antara lain menstruasi tidak teratur.
o   EFEKTIF: Intinya kontrasepsi dengan hormon sebaiknya bagi wanita dengan gangguan metabolik harus ekstra hati-hati dalam memilih jenis kontrasepsi ini.

o  IUD (Spiral) Intrauterine Device atau biasa juga disebut spiral karena bentuknya memang seperti spiral. Teknik kontrasepsi ini adalah dengan cara memasukkan alat yang terbuat dari tembaga kedalam rahim, seperti yang dikatakan Dr. Prima "sekarang ini, IUD generasi baru bisa dikombinasikan dengan hormon progesteron, agar efektifitasnya meningkat. Spiral ini juga bekerja menghalangi pertemuan sperma dan sel telur serta berdaya pakai hingga 5 tahun lamanya. Tingkat efektivitasnya bisa mencapai 98%, layaknya seperti pil, IUD juga mudah mengembalikan kesuburan Anda.
o   EFEKTIF: Sebaiknya wanita yang mudah mengalami keputihan tidak menggunakan metode ini. Benang di ujung IUD harus senantiasa bersih. Karena jika kotor akan mudah menyebabkan infeksi, "saran Dr. Prima.

4) KONTRASEPSI PERMANEN
o  Sterilisasi Cara kontrasepsi ini bersifat permanent. Konsepnya saluran telur pada wanita, disumbat dengan cara diikat, dipotong atau dibakar. Sterilisasi pada wanita ini juga bisa dilakukan dengan pengangkatan rahim. Sedangkan pada kaum pria, sterilisasi dilakukan dengan cara memotong saluran sperma. Tetapi ada persyaratan khusus bagi wanita yang ingin melakukan kontrasepsi jenis ini. "Amanya jumlah umur dikali jumlah anak harus minimal seratus. Misalnya, Anda telah berusia 35 tahun dan telah memiliki tiga anak. Lalu kalikan 35 x 3 = 105. Hasil ini dapat diartikan sebagai kondisi aman. Untuk itu jika Anda ingin jalani kontrasepsi, sebaiknya usia anak bungsu Anda telah melewati masa balita. hal ini sekedar berjaga-jaga jika suatu saat Anda masih berniat untuk hamil kembali.
o   EFEKTIF: Pilihan kontrasepsi ini paling cocok bagi wanita yang memang bertekad bulat tak ingin punya anak lagi.



















BAB IV
PENUTUP


A. KESIMPULAN
  1. KIA adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak yang anggotanya meliputi ibu hamil dan menyusui.
  2. Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah ataupun menunda kehamilan.

B. SARAN
1.      Bagi Institusi
      Diharapkan agar dapat memberi masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun tentang KIA dan KB.
2.      Bagi Mahasiswa DIII Kebidanan
      Diharapkan agar lebih mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan tentang KIA dan KB.
3.      Bagi Pembaca
        Diharapkan untuk petugas kesehatan agar meningkatkan kualitas pelayanan KB kepada masyarakat dan membantu mencapai KIA.     










DAFTAR PUSTAKA


  1. Bunga, Ayu.2011.KIA-KB (Kesehatan Ibu dan Anak-Keluarga Berencana). Tanggal diakses 19 juli 2012.www.rantingbungaayu.com

  1. Suharti.2011. KIA-KB (Kesehatan Ibu dan Anak-Keluarga Berencana).tanggal diakses 19 Juli 2012. www.kebidanan.blogspot.com

  1. Universitas Indonesia.2011.KIA-KB.tanggal diakses 19 Juli 2012.www.staff.blog.ui.ac.id